Warga Desa Sidorejo Kulon Progo Pasang Spanduk Tolak Tambang Besi

Warga Sidorejo Kulon Progo memasang spanduk berisi tuntutan terhadap Pemerintah Daerah Kulon Progo agar menghentikan kegiatan pertambangan besi di Sungai Progo/dokumen warga

Pada malam 8 Juli 2020, beberapa warga pesisir selatan Pantai Trisik Desa Sidorejo, Banaran, Galur, Kulon Progo memasang beberapa spanduk di simpang tiga Dusun Tigabelas. Namun, tak lama berselang, spanduk-spanduk yang berisi penolakan warga terhadap aktivitas tambang pasir di Sungai Progo, dirusak.

Warga Sidorejo tidak mengetahui siapa yang melakukan perusakan tersebut. Upaya pencarian jejak perusak segera dilaksanakan. Di malam yang sama, Warga Sidorejo segera menggelar pertemuan dengan para penambang untuk menanyakan perusakan spanduk. Para penambang menyatakan bahwa mereka juga tidak tahu-menahu. 

Dari hasil pertemuan dengan para penambang, disepakati bahwa Warga Sidorejo akan memasang kembali spanduk-spanduk di tempat yang sama, dengan tuntutan yang serupa. Dan, para penambang harus ikut menyaksikan serta ikut menjaga agar spanduk tetap ada. Hari dan waktu pemasangan kemudian disepakati bersama.

Pada Sabtu, 11 Juli 2020, sekitar pukul 9 pagi, bersama para penambang dan beberapa anggota kepolisian, Warga Sidorejo memasang spanduknya kembali di simpang tiga jalan Dusun Tigabelas. Warga Sidorejo yang ikut dalam pemasangan spanduk terhitung berjumlah ratusan, meningkat beberapa kali lipat dari pemasangan spanduk pertama yang hanya dipasang oleh belasan orang. Pemasangan spanduk kedua kalinya ini berjalan aman.

spanduk sebelum dirusak oleh orang tak dikenal/dokumen warga

Aksi pemasangan spanduk oleh Warga Sidorejo adalah bentuk protes terhadap aktivitas tambang pasir Sungai Progo yang membuat mereka merugi. Serta, mereka menuntut pemerintah setempat melakukan tindakan tegas terhadap tambang-tambang yang merusak lingkungan pesisir.

Menurut Andri, salah satu warga Pantai Trisik, ada beberapa kerugian nyata yang hadir dari aktivitas penambangan pasir Sungai Progo. Ia menyebut antara lain:

Pertama, aktivitas pertambangan yang menerabas kawasan konservasi penangkal tsunami, menciptakan abrasi (pengikisan pantai yang bersifat merusak). Menurut Andri, tiga tahun belakangan, diketahui garis Pantai Trisik telah terkikis sekitar 10 meter per tahunnya. Artinya, sampai hari ini sudah sekitar 30 meter garis pantai Trisik terkikis.

Kedua, air dari sumur-sumur warga pesisir pantai, yang biasanya tawar dan dapat dikonsumsi untuk minum, kini menjadi asin tiap musim kemarau. Air sumur tersebut hanya dapat digunakan untuk mencuci dan mandi. Para warga yang terdampak, kemudian harus meminta air dari sumur tetangga yang cukup jauh.

Ketiga, sektor pertanian Warga Sidorejo pun terkena imbasnya. Air sumur yang asin sudah tak bisa digunakan lagi untuk menyiram tanaman. Jika dipaksakan, tanaman bisa rusak. Alhasil, panen warga di musim kemarau menjadi tidak maksimal, atau bahkan gagal.

Keempat, rusaknya jalan utama Desa Sidorejo. Ada banyak lubang. Kerusakan ini disebabkan oleh adanya lalu-lalang truk pengangkut pasir yang diperkirakan ratusan unit tiap harinya. Karena itu pula, tiga tahun belakangan, kerap terjadi kecelakaan kendaraan bermotor. “Beberapa bulan lalu terjadi kecelakaan sepeda motor. Ada korban jiwa,” jelas Andri.

Kontributor: Reza Egis

Editor: A. Arfrian