Rekaman Siaran: Melihat Palembang dari Puing Cinde

Palembang dikenal sebagai penyelenggara banyak event besar olahraga, mulai dari tingkat nasional seperti PON hingga internasional seperti SEA Games dan ASIAN Games. Tetapi apakah itu saja yang layak dikenal dari kota berpenduduk 4.800 per km persegi itu?

Kenyataannya rentetan event besar tersebut, selain mampu menarik banyak perhatian jutaan pasang mata, juga mampu menarik minat para pemodal partikelir. 

Adalah Pasar Cinde, bangunan berusia 59 tahun, tempat ratusan pedagang mengais nafkah itu tempo hari dibongkar dengan dalih revitalisasi. Serupa dengan kasus penggusuran di kota-kota lain di Indonesia yang melibatkan modal swasta (PT Magna Beatum), dan tentu saja perangkat negara menjadi eksekutornya. Padahal, baik Walikota Palembang maupun Gubernur Sumatra Selatan telah menerbitkan SK yang menyatakan bangunan Pasar Cinde sebagai Cagar Budaya yang wajib dilestarikan.

Sikap inkonsisten kedua penguasa administratif tersebut menuai protes dari berbagai elemen masyarakat kota Palembang, mulai dari mahasiswa, advokat, hingga lingkar-lingkar gerakan otonom. Adanya lingkar-lingkar gerakan otonom yang turut terlibat dalam perjuangan masyarakat kota sangat layak untuk diceritakan. 

Bagaimana gerakan ini membangun dinamika dan jejaring di tengah padatnya pemukiman yang merangsek hingga ke pinggir bahkan di atas air sungai Musi. Juga bagaimana mereka mempertahankan dan memanfaatkan setiap jengkal ruang untuk berekspresi, layak ditampilkan.

Siaran @radiosolidario kali ini membahas seputar gerakan otonom di Kota Palembang, yang dipandu oleh host Mila bersama narasumber Taxlan dari Sangkakalam, Spektakel Klab, Manekin, Palembang.

Rekaman siaran dapat diunduh melalui link ini.