(Pernyataan Sikap) Mengecam Kekerasan, Penghadangan, Pembungkaman dan Penangkapan terhadap Massa Aksi 1 Mei 2019

Peringatan Hari Buruh 1 Mei 2019 dilakukan serentak di berbagai kota di Indonesia. Tahun ini, Aksi 1 Mei dicemari dengan tindakan kekerasan dan penangkapan oleh aparat TNI dan Polisi. Seperti yang terjadi di Bandung, massa aksi dari aliansi Gerakan Rakyat Anti Kapitalisme (GERAK) sengaja dipecah belah barisannya oleh aparat kepolisian yang memicu terjadinya bentrokan. Selanjutnya, aparat kepolisian juga menangkap dan menahan massa aksi berjumlah sekitar 600 orang. Mereka dipukuli, ditendang, diinjak, ditelanjangi, diarak, digunduli, dan ditahan. Sejumlah pekerja media juga mendapat tindakan kekerasan dan ancaman dari aparat TNI dan Polisi. Jurnalis Tempo dan jurnalis lepas mendapatkan tindakan kekerasan berupa tendangan, diinjak, diancam ‘mau dihabisi’ dan hasil dokumentasi dihapus paksa.

Tidak hanya di Bandung, kekerasan dan penangkapan juga terjadi di beberapa tempat lainnya. Seperti pemukulan dan penangkapan 5 massa aksi dari aliansi Barisan Rakyat Anti Penindasan (BARA API) di Surabaya, penghadangan massa aksi di Jakarta, hingga penangkapan terhadap 2 massa aksi di Makassar. Di Yogyakarta, pada 1 Mei kemarin pukul 10.32 WIB, massa aksi aliansi Komite Aksi Mayday untuk Rakyat (Kamrat) dihadang dan mengalami tindak kekerasan oleh aparat saat berada di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan.

Bukan hanya tindakan penghadangan, pemukulan, dan penangkapan, tetapi stigma juga dilekatkan oleh berbagai media arus utama, media sosial, maupun pernyataan aparat terkait aksi 1 Mei 2019. Mereka menuduh bahwa massa aksi bukanlah bagian dari buruh. Perlu dipahami oleh kita semua, bahwa siapapun yang menukarkan tenaga dan pikirannya dengan imbalan upah adalah buruh. Setiap buruh berhak untuk berjuang melawan penindasan atas dirinya dan buruh-buruh lainnya. Oleh sebab itu, massa aksi dari berbagai latar belakang, baik itu pekerja pabrik, pekerja rumah tangga, penjaga toko, ojek online, penulis, jurnalis, pekerja media, pekerja intelektual, seniman, dan sebagainya adalah buruh dan berhak melakukan aksi 1 Mei sebagai hari perjuangannya. Mahasiswa dan pelajar pun berhak untuk menyatakan solidaritasnya atas perjuangan buruh, sebab mereka adalah buruh dan/atau calon buruh intelektual yang dididik untuk dieksploitasi pengetahuannya oleh penguasa dan pemilik modal.

Tindakan penghadangan, pemukulan, penangkapan, beserta pembungkaman yang terjadi pada berbagai massa aksi di Hari Buruh 1 Mei 2019 adalah ancaman terhadap kebebasan berekspresi, berpendapat, dan juga menjadi ancaman perjuangan buruh Indonesia dan perjuangan kita semua. Oleh sebab itu, kami menyatakan sikap:

  1. Mengecam tindak kekerasan, penangkapan, dan pembungkaman ruang demokrasi yang dilakukan oleh aparat TNI dan polisi terhadap massa aksi di Bandung, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta.
  2. Mengecam kekerasan, ancaman, dan perebutan paksa alat kerja jurnalistik, terhadap jurnalis Tempo, jurnalis lepas, dan jurnalis mahasiswa yang sedang meliput aksi di Bandung.
  3. Bebaskan ratusan massa aksi yang ditahan dan disiksa aparat kepolisian Bandung.
  4. Bangun solidaritas lintas batas antar pekerja dari berbagai sektor. Baik itu pekerja pabrik, buruh tani, pekerja media, pekerja advokat, pekerja intelektual, pekerja rumah tangga, pekerja ojek online, pekerja literasi, dan para calon pekerja.

Yogyakarta, 2 Mei 2019

JOGJA DARURAT AGRARIA

Sumber: Akun Twitter Jogja Darurat Agraria