Perihal Tilik dan Pelanggengan Stigma

Film Tilik

Film Tilik karya Wahyu Agung Prasetyo tayang di youtube. Ia kemudian sempat menjadi topik utama di linimasa media sosial. Ada yang memuji, dan tentu ada yang mengkritik pula. Para penonton menilai Tilik masih melanggengkan narasi seksis; menggibah hanya menjadi aktivitas perempuan. Padahal siapa pun dapat menggibah tanpa memandang jenis kelamin. Pun, Tilik masih ada pelabelan mana perempuan yang “baik-baik” dan yang “tidak baik-baik” sesuai realita masyarakat yang masih berkubang pada budaya patriarkis.

Perempuan dan komunitasnya juga bisa saling memberdayakan, menghilangkan pelabelan dan mengupayakan narasi baru dalam realita hari ini yang sangat beracun baginya. Salah satu contoh karya yang dapat melawan narasi Tilik adalah Arisan Siasat. Drama audio karya Erlina Rakhmawati ini memperlihatkan realita komunikasi perempuan yang berkumpul dalam komunitasnya tidak hanya untuk bergibah, tapi juga bisa saling bertukar cerita kondisi rumah-tangga, berusaha saling membantu kala pandemi, dan pada akhirnya menjadi upaya kecil dalam melawan budaya patriarki.

Maka, 30 Menit Bisa Lebih kali ini berbincang dengan Nurrul Nelwan, mahasiswa akhir Institusi Seni Indonesia Yogyakarta jurusan Televisi dan Film. Mengulas Tilik, kritik film dan isu-isu seputar kedua hal tersebut. Sila diperdengar~