Maka, Hanya Ada Satu Kata: Lawan!

desain oleh Onze

Lelaki berzodiak Virgo, yang lahir 26 Agustus 57 tahun yang lalu, dihilangkan oleh negara. Bernama asli Widji Widodo, ia dikenal sebagai Widji Thukul. Penyair dan aktivis Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER). Ia telah mencipta sejumlah puisi yang membuat pemerintah muntah darah. Satu bait yang tak lekang oleh waktu; “Maka hanya ada satu kata: lawan!”.

Bait terakhir dari Peringatan yang tercipta pada 1986 tersebut masih lantang disuarakan oleh tiap-tiap dari kita, korban perampasan ruang hidup oleh negara. Oleh Widodo asal Solo lainnya, penuntasan kasus penculikan dijanjikan. Nyatanya, Joko Widodo, Presiden Indonesia ke-7 tak pernah membuka kasus penculikan Widji Thukul dan ke-12 aktivis 97/98 lainnya. Hingga kini, 22 tahun lamanya. Meskipun sosok Widji Thukul telah tiada, semangat perlawanan dalam puisi-puisinya terus hadir sampai sekarang. Bergema di tiap demonstrasi, di tiap kita menuntut keadilan.

RUU Omnibus Law Cipta Kerja menjadi kontroversial. Dinilai tidak ramah terhadap kesejahteraan masyarakat luas dan lingkungan hidup, tetapi oleh pemerintah pusat terus dikebut untuk selesai, walau dalam masa pandemi. Kampanye dan propaganda pun digalakkan. Terhitung 21 pemengaruh dari musisi, penyiar radio, selebritis, dan youtuber dibayar untuk menaikkan #IndonesiaButuhKerja. Beberapa dari mereka mengaku tak tahu maksud tagar tersebut. Sejak 2014-2019, menurut data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang diakses oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) terdapat penggunaan anggaran pemerintah pusat untuk pemengaruh sebesar Rp 90,45 miliar untuk sosialisasi kebijakan.

Dalam isu sepekan, kami mendapat kabar pada 26 Agustus 2020, kebun melon Petani Urut Sewu telah dirusak oleh Satuan Armed 10 Purwakarta, yang pada saat itu sedang latihan menembak dengan senjata jenis roket. Kendaraan pengangkut roket memasuki kebun melon dan melindas tanaman yang berumur kurang lebih 30 hari dan mulai berbuah. Warga terdampak tak berani menegur dan meminta ganti rugi terhadap TNI-AD. Sejarah kekerasan militer di Urut Sewu sudah bertahun-tahun lamanya, dan kekinian mereka semakin bertindak arogan setelah dikeluarkannya sertifikat hak pakai TNI-AD di beberapa desa.

Selain itu ada kabar penyerangan massa misterius terhadap massa aksi Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) yang berdemontrasi dengan tajuk “Atasi Virus, Gagalkan Omnibus” pada Jumat 14 Agustus 2020 di Pertigaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aksi yang berjalan lancar dan kondusif tiba-tiba saja ricuh setelah sejumlah orang misterius, yang dikatakan oleh Kepala Dukuh dan Ketua RW Papringan bukan warga mereka, melempari batu dan mengancam massa ARB dengan menggunakan bambu dan tongkat kayu. Polisi setempat mengklaim tak ada korban luka, tetapi nyatanya beberapa massa ARB mendapat luka akibat lemparan batu.

Menurut rilis pers yang dikeluarkan, ARB mengecam aparat kepolisian telah memberi ruang kepada kelompok untuk menyerang massa ARB. “Terlihat seseorang yang diduga dari pihak kepolisian memberikan isyarat pada pihak penyerang massa aksi dengan menggunakan senter kecil dengan cara mematikan dan menyalakan secara cepat dan berulang,” tulis ARB dalam kronologi aksi.

Maka, 30 Menit Bisa Lebih ingin menyisipkan puisi Peringatan, sebagai peringatan!

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah? Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!.

(Wiji Thukul, 1986)